Selasa, 19 November 2019, WIB

Kamis, 02 Mei 2019, 10:53:50 WIB, 183 View Ryan Descreate, Kategori : Politik

Jakarta - Pemerintah Amerika Serikat (AS) dan China diketahui hampir sepakat mengenai negosiasi damai dagang kedua negara, terutama berkaitan dengan perang tarif, sebagaimana dilaporkan media asal AS, Politico, pada Rabu kemarin (1/5/2019).

Mengutip sumber Politico yang mengetahui negosiasi damai dagang tersebut, pemerintahan Presiden AS Donald Trump akan segera menghapus tarif 10% atas sebagian dari impor China senilai US$ 200 miliar dengan catatan kesepakatan kedua negara bisa terjadi. 

Kedua negara juga diperkirakan akan menandatangani kesepakatan pada akhir pekan depan.

Adapun tarif 10% untuk barang-barang China lain juga akan dihapuskan "dengan cepat," kata sumber itu.

Namun, tarif 25% yang dikenakan AS atas barang-barang China senilai sekitar US$ 50 miliar kemungkinan akan tetap berlaku sampai setelah pemilihan presiden di AS pada 2020, kata sumber Politico itu.

Dilansir CNBC International, tarif impor masih menjadi poin penting dalam negosiasi perdagangan karena AS sangat ingin membuat kesepakatan perdagangan, apa pun yang terjadi. 

Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengatakan dia akan menggunakan tarif yang ada sebagai alat penegakan hukum, sementara China telah mendorong penghapusan semua bea masuk sebagai bagian dari kesepakatan.

Ekspektasi bahwa China dan AS akan mencapai kesepakatan dagang telah meningkat dalam beberapa bulan terakhir, sentimen ini mampu melonjakkan saham-saham di bursa Wall Street, AS. Indeks S&P 500 naik lebih dari 17% tahun ini dan mencapai rekor perdagangan harian (intraday) pada Rabu kemarin.

Laporan Politico tampaknya membantu menggerakkan persepsi investor di bursa-bursa utama pada Rabu kemarin. Kepala Staf Gedung Putih Mick Mulvaney, pada Selasa lalu mengatakan bahwa pembicaraan dagang akan diselesaikan "dengan satu atau lain cara" dalam dua minggu ke depan.

Perang dagang yang berkepanjangan antara dua ekonomi terbesar di dunia itu membuat investor gelisah hampir sepanjang tahun 2018 karena khawatir sentimen itu dapat menyebabkan penurunan laba perusahaan dan perlambatan ekonomi global mengingat China dan AS menjadi negara dengan ekonomi terbesar.

CNBC International mengungkapkan China dan AS akan segera mengumumkan hasil kesepakatan dagang Jumat (10/5/2019) pekan depan, berdasarkan sumber yang mengetahui masalah tersebut.

Bila AS dan China tak lagi saling lempar bea impor, maka rantai pasokan global berpotensi untuk melaju lebih kencang. Perlambatan ekonomi global yang selama ini menghantui juga dapat ditinggalkan.





Tuliskan Komentar


//