PERKEMBANGAN VIRUS CORONA

Berita Selengkapnya
Selasa, 29 September 2020, WIB

Jumat, 04 Sep 2020, 10:45:41 WIB, 61 View Ryan Descreate, Kategori : Teknologi

Jakarta - YouTuber Anji dan narsumnya Hadi Pranoto yang misinformasi soal Corona kini diperiksa polisi. YouTube buka suara soal maraknya pembuat video yang misinformasi.

Dalam perbincangan dengan sejumlah media di Asia Pasifik termasuk detikINET, YouTube bicara soal sikap mereka mengatasi hoax dan misinformasi selama pandemi Corona. Salah satu yang sering muncul di berbagai negara adalah saran kesehatan tanpa basis ilmiah atau ilmu kedokteran, bisa hoax atau misinformasi.

Di Indonesia ada kasus Anji dan Hadi Pranoto, rupanya di negara-negara lain ada juga kejadian yang serupa dengan kasus Anji-Hadi. Apa tanggapan YouTube?

"Kami meminta agar para content creator hati-hati dalam bicara. Kita punya content policy dan petunjuk jelas video macam apa yang melanggar aturan kita. Para kreator harusnya melihat itu dulu," kata PM Director Trust & Safety Youtube, Jennifer Flannnery O'Connor, Kamis (4/9/2020).

"Termasuk misalnya pejabat yang salah ngomong, itu juga akan kita hapus," kata Jennifer.YouTube mengatakan, dari total konten yang ada, hanya 1% saja yang berbahaya. Mereka menegaskan konten yang misinformasi apalagi pada akhirnya akan merugikan YouTuber itu sendiri. Konten mereka ditandai (flagged) oleh YouTube, tidak bisa dimonetisasi dan ujungnya dihapus.

YouTube kini punya protokol yang disebut 4R: Remove, Reduce, Raise dan Reward. Dua yang pertama untuk konten negatif, dua yang terakhir untuk konten yang positif. VP Product Management Youtube, Woojin Kim, mengajak seluruh YouTuber jadi pihak yang bertanggung jawab.

Itu pun masih ada YouTuber yang kucing-kucingan dengan konten yang diatur sedemikian rupa agar lolos dari pantauan YouTube padahal kontennya hoax atau misinformasi. YouTube pun memperkuat tim pemantau gabungan mesin dan manusia."Review dulu sebelum publish. Itulah yang kita minta dari setiap konten agar user tidak melanggar aturan. Makanya ada machine based detection, jadi bisa langsung dikategorikan apa oke atau harus dioper ke human review," kata Kim.

"Kita dulu gabungan mesin dan manusia. Kita punya tim yang tersebar di seluruh negara dengan berbagai kemampuan bahasa dan pemahaman isu-isu khusus . Kualitas reviewer juga dinilai seiring waktu. Banyak reviewer yang sekarang kerja dari rumah karena COVID-19, tapi mereka memantau terus," kata Kim.

"Situasi COVID-19 berubah terus dan strategi kami mengandalkan pakar. Beda negara, beda perspektif dan rekomendasi. Jadi kami juga lihat Kemenkes tiap negara juga dan kita lokalisasi isunya di setiap negara," pungkas Kim.Kim mengatakan isu COVID-19 cepat berubah dan banyak perkembangan baru. Omongan yang bulan kemarin valid, bulan depan bisa menjadi salah. Belum lagi tiap negara beda cara menangani COVID-19. Untuk itu, konten-konten YouTube terkait COVID-19 dinilai sesuai posisi negara masing-masing.

Tuh, dengarkan ya YouTuber, jangan sembarangan bikin konten terkait COVID-19, apalagi demi mencari sensasi. Salah-salah, bukan popularitas yang didapat tapi malah videonya dihapus YouTube dan berurusan dengan hukum!





Tuliskan Komentar


//